Senin, 31 Oktober 2011

FONOLOGI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Berbahasa Indonesia yang baik dan benar akan memberikan apresiasi yang besar terhadap bangsa. Bahasa Indonesia tidak hanya sebagai alat komunikasi semata. Bahasa Indonesia memiliki suatu aturan yang disebut dengan tata bahasa. Tata bahasa inilah yang akan mengatur bentuk bunyi, huruf, dan makna dalam setiap kata atau kalimat yang kita ucapkan. Penggunaan tata bahasa yang baik akan menjadikan bahasa Indonesia lebih berharga dalam dunia kebahasaan. .
Berbicara tidak sekadar mengeluarkan bunyi bahasa, tetapi ada unsur-unsur yang perlu diperhatikan. Wujud bahasa yang utama adalah bunyi. Bunyi-bunyi itu disebut bunyi bahasa. Dalam pengucapannya, bunyi-bunyi bahasa dapat disegmentasikan atau dipisah-pisahkan (bunyi segmental). Dalam bunyi yang dapat disegmentasikan itu terdapat unsur-unsur yang menyertainya yang disebut bunyi suprasegmental. .
Salah satu tata bahasa Indonesia yang perlu diperhatikan adalah jeda ketika berbicara. Jeda merupakan bunyi suprasegmental dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia jeda terasa lebih terasa fungsional jika dibandingkan dengan unsur suprasegmental lainnya. Jeda bersifat distingtif atau bersifat membedakan makna.
Penggunaan jeda dalam bahasa Indonesia lisan lebih mudah diterapkan daripada dalam bahasa Indonesia tulis. Dalam bahasa Indonesia tulis, terlebih dalam tataran kalimat sering menimbulkan kerancuan makna, kekaburan makna, atau makna ambigu. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai definisi dan fungsi jeda, macam jeda, fonologi prosodi dan penggunaan jeda dalam bahasa Indonesia.




1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan berbagai kajian yang diuraikan pada latar belakang di atas, maka muncul beberapa permasalahan. Adapun permasalahan-permasalahan yang muncul dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
A. Apakah definisi dan fungsi jeda dalam bahasa Indonesia?
B. Apa saja macam jeda atau persendian dalam bahasa Indonesia?
C. Bagaimana penjelasan fonologi prosodi terhadap jeda?
D. Bagaimana penggunaan jeda dalam bahasa Indonesia tulis?


1.3 TUJUAN
Makalah ini dimaksudkan untuk membahas penggunaan jeda dalam bahasa Indonesia. Adapun penjabaran tujuan sebagai berikut.
A. Untuk mengetahui definisi dan fungsi jeda dalam bahasa Indonesia itu.
B. Untuk mengetahui macam jeda atau persendian dalam bahasa Indonesia.
C. Untuk mengetahui bagaimana penjelasan fonologi prosodi terhadap jeda.
D. Untuk mengetahui bagaimana penggunaan jeda dalam bahasa Indonesia tulis.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI JEDA DAN FUNGSI JEDA DALAM BAHASA INDONESIA
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jeda adalah hentian sebentar dalam ujaran (sering terjadi di depan unsur kalimat yang mempunyai isi informasi yang tinggi atau kemungkinan yang rendah).
Muslich (2008:114--115) menyatakan bahwa jeda atau kesenyapan terjadi diantara dua bentuk linguistik, baik antar kalimat, antarfrase, antarkata, antarmorfem, antarsilaba, maupun antar fonem. Jeda antara dua bentuk linguistik yang lebih tinggi tatarannya lebih lama kesenyapannya bila dibanding dengan yang lebih rendah tatarannya. Jeda antar kalimat lebih lama kesenyapannya bila dibanding dengan jeda antar frase. Jeda antar frase lebih lama bila dibanding dengan jeda antarkata. Begitu juga seterusnya.
Dalam bahasa Indonesia, jeda ini terasa lebih fungsional bila dibanding dengan suprasegmantal yang lain. Perhatikan perbedaan jeda pada kalimat berikut.
(1) Anak / pejabat yang nakal itu telah dimejahijaukan.
(2) Anak pejabat / yang nakal itu telah dimejahijaukan.
Dengan perbedaan jeda yang agak lama antara anak dan pejabat (kalimat 1) dan antara pejabat dan yang (kalimat 2) makna kalimat itu berbeda. Pada kalimat (1) ‘yang nakal adalah pejabat’, sedangkan pada kalimat (2) ‘yang nakal adalah anak pejabat’.
Dengan begitu frase buku sejarah baru pada kalimat berikut.
(3) Ia membeli buku / sejarah baru
(4) Ia membeli buku sejarah / baru
Dengan perbedaan jeda yang agak lama antara buku dan sejarah (kalimat 3) dan antara buku dan sejarah (kalimat 4) makna kalimat itu berbeda. Pada kalimat (3) ‘yang baru adalah sejarahnya’, sedangkan pada kalimat (2) ‘yang baru adalah bukunya’
Jeda merupakan fonem dalam bahasa Indonesia. Apabila kita bandingkan satuan gramatik rekreasi dan re//kreasi, terlihat jelas terjadi perbedaan makna. Satuan gramatik rekreasi mempunyai makna ‘berwisata’, sedangkan satuan gramatik re//kreasi bermakna ‘kreasi ulang’. Perbedaan makna dua satuan gramatik tersebut terjadi karena hadirnya jeda pada re//kreasi. Dengan demikian jelaslah bahwa jeda merupakan fonem suprasegmental bahasa Indonesia (Sumadi, 2010)
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa jeda dalam bahasa Indonesia merupakan salah satu bunyi suprasegmental yang berfungsi sebagai pembeda makna. Dapat pula dikatakan bahwa jeda dalam bahasa Indonesia bersifat distingtif (pembeda makna).

2.2 MACAM JEDA ATAU PERSENDIAN DALAM BAHASA INDONESIA
Beberapa referensi menyatakan menyebutkan istilah jeda dengan istilah persendian. Dengan kata lain, jeda dikenal juga dengan istilah persendian. Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jeda karena adanya hentian itu, dan disebut persendian karena di tempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain. Jeda ada yang bersifat penuh juga ada yang sementara. Sedangkan jeda dibedakan karena adanya sendi dalam dan sendi luar. Sendi dalam merupakan jeda yang bersifat sementara. Sendi dalam menunjukkan batas antara satu suku kata dengan suku kata yang lain.
Contoh: /am+bil/ /lam+pu/ /pe+lak+sa+na/
Tanda (+) dalam pengucapan di atas menunjukkan jeda (sendi dalam). Sendi luar menunjukkan batas yang lebih besar dari
suku kata. Sendi luar memberi jeda antarkata dalam frase, antarfrase dalam klausa, dan antarkalimat dalam wacana. .
Macam jeda dan persendian yang penulis sampaikan, berdasarkan pendapat Uliyati (2009). Dalam penjenisan jeda dalam bahasa Indonesia, Uliyati membedakan antara istilah jeda dan sendi.

Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai macam jeda dan persendian dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.
Sendi (Juncture) adalah peralihan dari satu bunyi ke bunyi yang lain dengan terdapat perhentian sejenak. Sendi berada dalam tataran kata.
Macam-macam sendi:
1. Sendi tutup (close juncture) yaitu sendi yang ada di dalam kata
2. Sendi buka (open juncture) yaitu sendi yang mengakhiri kata
3. Sendi buka dalam (internal open juncture) yaitu sendi buka yang menandai peralihan di dalam kata.
Contoh:
1. Kemeja
Sendi yang terjadi yaitu /ke/ dengan /me/ dan /me/ dengan /ja/.Sendi /ke/ dengan /me/ dan /me/ dengan /ja/ disebut sendi tutup.Sedangkan sendi sebelum /ke/ dan sesudah /ja/ disebut sendi buka.
2. Beruang → memiliki uang
Beruang → nama binatang
Sendi sebelum /u/ lebih panjang untuk kata pertama daripada kata kedua.
Simbol secara fonetis untuk menandakan sendi:
1. Sendi tutup → tanda palang (+)
2. Sendi buka → tanpa symbol
Misal: ke + meja (ia melempar uang logam ke meja itu)

Berdasarkan transkripsi fonetisnya, sendi dibedakan menjadi:
- Sendi tambah (+), yaitu jeda yang berada di antara dua suku kata. Ukuran panjangnya kurang dari satu fonem.
- Sendi tunggal (/), yaitu jeda yang berada di antara dua kata dalam frasa dengan ukuran panjang satu fonem.
- Sendi rangkap (//), yaitu jeda yang berada diantara dua fungsi unsur klausa atau kalimat, di antara subjek dan predikat.
- Sendi kepang rangkap (#), yaitu jeda yang berada sebelum dan sesudah tuturan sebagai tanda diawali dan diakhirinya tuturan.

Jeda adalah perhentian yang menandai batas terminal intonasi kalimat. Jeda berada dalam tataran kalimat.
Macam-macam jeda:
1. Jeda final yaitu perhentian berada di akhir kalimat dan menandai intonasi berakhir.
2. Jeda nonfinal yaitu perhentian berada di tengah kalimat yang menandai frase tertentu.
Notasi yang digunakan:
1. Jeda final → palang ganda ( # )
2. Jeda nonfinal → garis miring ( / )
Contoh:
# guru / baru datang #
# guru baru / datang #

2.3 PANDANGAN FONOLOGI PROSODI TERHADAP JEDA
Dalam pembahasan jeda bahasa Indonesia, pembahasan tentang fonologi prosodi terasa perlu. Hal ini dikarenakan jeda merupakan salah satu bunyi suprasegmental. Fonologi prosodi membahas tentang bunyi segmental yang pada pokok-pokok prosodinya diungkap mengenai bunyi suprasegmental terutama jeda. Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai fonologi prosodi menurut Abied (2011) sebagai berikut.
Pada tahun (1890-1960) seorang guru besar pada Universitas London yang bernama John R. Firth telah mengemukakan sebuah teorinya mengenai fonologi prosodi. Karena itulah, teori yang dikembangkannya tersebut kemudian dikenal dengan nama aliran Porosodi; tetapi disamping itu dikenal pula dengan nama aliran firth, atau aliran Firthian, atau aliran London.
Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Fonologi prosodi tersebut terdiri dari satuan-satuan fonematis berupa unsur-unsur segemental; yakni konsonan, vokal, sedangkan satuan prosodi berupa ciri-ciri atau sifat-sifat struktur yang lebih panjang daripada suatu segmen tunggal.
Aliran London atau biasa juga disebut fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Arti pada pokok tataran fonematis tersebut yaitu berupa unsur-unsur segmental.
Adapun pokok-pokok prosodi tersebut terbagi atas tiga macam yakni sebagai berikut:
1) Prosodi yang menyangkut gabungan fonem; struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan dan gabungan vokal
2) Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda. Artinya jeda atau persendian mempunyai hubungan erat dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Mengapa disebut jeda? Yakni karena ditempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lainnya.
Jeda ini bersifat penuh dan dapat juga bersifat sementara, sedangkan sendi biasanya dibedakan adanya sendi dalam (internal juncture) atau sendi luar (open juncture), sendi dalam menunjukkan batas yang lebih besar dari segmen silabel. Dalam hal ini, biasanya dibedakan:
 Jeda antara kata dalam frase diberi tanda berupa garis miring tunggal (/)
 Jeda antara frase dalam klausa diberi tanda berupa garis miring ganda (//)
 Jeda antara kalimat dalam wacana diberi tanda berupa garis silang ganda (#)
Sehingga dapat diketahui bersama bahwa dalam bahasa Indonesia sangat penting karena tekanan dan jeda itu dapat mengubah makna kalimat.
3) Prosodi yang realisasi fonetisnya melampaui yang lebih besar dari pada fonem-fonem suprasegmental. Artinya bahwa arus ujaran merupakan tuntutan bunyi sambung bersambung terus menerus diselang-seling dengan jeda singkat atau jeda agak singkat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi dan sebagainya. Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan sehingga disebut bunyi segmental; tetapi berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi supra segmental atau prosodi. Dalam studi mengenai bunyi atau unsur suprasegmental ini biasanya dibedakan pula atas; tekanan atau stress, nada atau pitch, jeda atau persendian.

2.4 JEDA DALAM BAHASA INDONESIA TULIS
Sebagaimana pembahasan dalam latar belakang bahwa penggunaan jeda dalam bahasa Indonesia lisan lebih mudah diterapkan daripada dalam bahasa Indonesia tulis. Dalam bahasa Indonesia tulis, terlebih dalam tataran kalimat, perbedaan jeda sering menimbulkan kerancuan makna, kekaburan makna, atau makna ambigu.
Sebagai antisipasi hal tersebut, perlu dilakukan pengkajian mengenai tata bahasa tulis mengenai penggunaan jeda dalam bahasa Indonesia tulis. Mengingat jeda memiliki fungsi sebagai pembeda makna. Selain itu, yang lebih penting lagi adalah agar tidak terjadi kekaburan makna. Bunyi suprasegmental lain seperti nada, sudah memiliki aturan mengenai penulisannya. Untuk menunjukkan nada tanya, menggunakan tanda tanya (?), untuk menunjukkan kalimat seru, perintah menggunkan tanda seru (!), dan untuk menunjukkan kalimat berita menggunakan tanda titik (.). Sedangkan untuk penulisan bunyi suprasegmental yang berupa jeda dalam bahasa Indonesia masih belum jelas.
Untuk mengkaji penggunaan jeda dalam bahasa Indonesia tulis perlu dikaji terlebih daulu mengenai tanda baca. Tanda baca merupakan bunyi suprasegmental dalam bahasa lisan. Bunyi suprasegmental merupakan fonem karena membedakan makna. Selain mengenal huruf sebagian grafem, dalam bahasa Indonesia juga mengenal 15 tanda baca. Tanda bunyi tersebut yaitu sebagai berikut.


a. titik
b. koma
c. titik koma
d. titik dua
e. tanda hubung
f. tanda pisah
g. tanda elipsis
h. tanda tanya
i. tanda seru
j. tanda kurung
k. tanda kurung siku
l. tanda petik
m. tanda petik tunggal
n. tanda garis miring
Dari kelima belas tanda baca yang ada dalam bahasa Indonesia, tidak semuanya bisa digunakan untuk member tanda adanya jeda. Dari kelimabelas tanda di atas, terdapat beberapa tanda baca yang bisa digunakan untuk menandakan adanya jeda.

2.4.1 Tanda Titik
Dalam EYD, penggunaan tanda titik sebagai berikut:
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkanwaktu.
4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
5. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.
6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Berdasarkan penjelasan di atas, tanda titik dalam penjedaan ini mengacu pada pola pertama. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Sudah cukup jelas bahwa tanda titik bisa dipakai dalam penulisan jeda yang bersifat final. Tanda ini selalu digunakan pada setiap akhir kalimat berita.

2.4.2 Tanda Hubung
Muslich (2008:115) mengemukakan bahwa dalam penulisan, untuk membedakan kekaburan makna pada frase-frase diberi tanda hubung (-) diantara kata yang merupakan penjelas langsungnya. Perhatikan perbedaan jeda pada kalimat berikut.
(1) Anak / pejabat yang nakal itu telah dimejahijaukan.
(2) Anak pejabat / yang nakal itu telah dimejahijaukan.
(3) Ia membeli buku / sejarah baru
(4) Ia membeli buku sejarah / baru
Dengan demikian, keempat frase pada kalimat tersebut ditulis sebagai berikut.
(1a) Anak - pejabat yang nakal itu telah dimejahijaukan.
(2a) Anak pejabat - yang nakal itu telah dimejahijaukan.
(3a) Ia membeli buku - sejarah baru.
(4a) Ia membeli buku sejarah - baru.
Adapun penggunaan tanda hubung yang terdapat dalam pedoman umum ejaan yang disempurnakan (EYD) sebagai berikut.
1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
3. Tanda hubung meyambung unsur-unsur kata ulang.
4. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
5. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.
6. Tanda hubung dipakai untuk merangkai (i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan -an, (iv) singkatanberhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (v) nama jabatan rangkap.
7. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Berdasarkan penjelaan di atas, penggunaan tanda hubung yang digunakan untuk menghindari kekaburan makna tidak terdapat dalam pedoman umum ejaan yang disempurnakan (EYD). Dari ketujuh pola penggunaan tanda hubung dalam EYD, penggunaan tanda hubung untuk menghindari kekaburan makna bisa hampir bisa dikategorikan dalam pola ke-lima sebagai berikut.
5. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.
Misalnya:
ber-evolusi, dua puluh lima-ribuan (20 x 5.000), tanggung jawab-dan
kesetiakawanan-sosial
Bandingkan dengan:
Be-revolusi, dua-puluh-lima-ribuan (1 x 25.000), tanggung jawab dan
kesetiakawanan sosial
Dalam pola ke-lima tersebut tanda hubung boleh dipakai unuk memperjelas dua hal, yakni hubungan bagian kata atau ungkapan dan penghilangan bagian kelompok kata. Dalam pola ke-lima tersebut bisa ditambahkan satu pemerian lagi, sehingga berbunyi sebagai berikut.
Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata (iii) hubungan kata dalam kalimat untuk menghindari makna ambigu.
Misalnya:
Dosen - baru datang.
Dosen baru – datang.

2.4.3 Tanda Koma
Selain tanda hubung (-), penggunaan jeda dalam bahasa Indonesia tulis bisa menggunakan penulisan tanda koma. Adapun pola penggunaan tanda koma (,) dalam pedoman EYD ialah sebagai berikut.
1. Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, atau melainkan.
a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului indukn kalimatnya.
b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
3. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
4. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat.
5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
6. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
7. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
8. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki. 9. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
10. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
11. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
12.Tanda koma dapat dipakai―untuk menghindari salah baca―di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
13. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langung itu berakhir dengan tanda tanya atau seru.
Dalam penjabaran penggunaan tanda koma di atas, pada pola ke-dua belas dinyatakan bahwa tanda koma dapat dipakai untuk menghindari salah baca. Salah baca bisa diartikan sebagai kekaburan makna, kerancuan makna, atau makna ambigu. Hal ini menunjukkan bahwa tanda koma bisa digunakan untuk menggantikan jeda dalam bahasa Indonesia tulis. Penggunaaan tanda koma ini terasa lebih efektif digunakan daripada penggunaan tanda hubung.
Misalnya:
Siti / istri / pak lurah yang baru itu / cantik.
Siti/ istri pak lurah / yang baru itu / cantik.
Kalimat-kalimat tersebut berubah menjadi sebagai berikut.
Siti, istri pak lurah yang baru itu, cantik.
Siti, istri pak lurah, yang baru itu, cantik.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa dalam penulisannya, jeda dalam bahsa Indonesia bisa menggunakan tanda baca titik (.), tanda baca hubung (-), dan tanda baca koma (,).


BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Jeda dalam bahasa Indonesia terasa lebih fungsional jika dibandingkan dengan unsur suprasegmental lainnya. Jeda berfunsi sebagai pembeda makna. Jeda atau persendiaan ini memiliki macam-macam bentuk, antara lain jeda final dan jeda non final.
Dalam tataran kalimat, penggunaaan jeda dalam bahasa Indonesia tulis sering menimbulkan kekaburan makna. Oleh karena itu, penulis memberikan solusi penggunaan tanda hubung atau tanda koma pada kalimat yang berpeluang menimbulkan kalimat ambigu. Dalam penulisannya, jeda final ditulis dengan tanda titik. Sedangkan untuk jeda non final dapat menggunakan tanda hubung atau tanda koma.

3.2 SARAN
Adapun saran yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca adalah sebagai berikut.
1. Bahasa memiliki suatu aturan tata bahasa yang seharusnya ditaati oleh para penggunanya. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia sudah sepatutnya memperhatikan aturan tersebut seperti aturan jeda dalam berbicara.
2. Jeda dalam bahasa Indonesia tulis lebih sulit daripada jeda dalam bahasa Indonesia lisan. Oleh karena itu, perhatikanlah aturan tata tulis dalam penggunaan jeda agar tidak terjadi kekaburan makna.

1 komentar:

  1. Thankx,,,,,,,,,potingan ne tlah mnjawab kbngunganku ttg sendi......

    BalasHapus